Umpan Balik

April 1, 2011 - One Response

kulemparkan bolaku kepada batu

kembali mantap terpantul ke tanganku

 

kulemparkan bolaku ke pasir

terpantul pelan, tidak sampai ke tangan ku

 

kulemparkankan bolaku ke air

riak lalu mengapung

 

kulemparkan bolaku padamu

tak mantap terpantul ke tanganku

dan

bagaimana aku bisa percaya kau itu batu?

Percakapan Dua Orang Tuli

October 11, 2010 - 2 Responses

A : Halo B, mau kemana?

B : Mau ke masjid…

A : Oh ke pasar, saya kirain mau ke masjid…

B : Engga… ga kesana, saya mau ke masjid. situ mau kemana?

A : Kalau saya mau ke masjid

B : Oh, ga searah donk… hati-hati deh…

A : OK. Hati-hati ya kecopetan di pasar

Just Can’t Help It

July 26, 2010 - 6 Responses

Aku pencemburu akut

Aku iri melihat mentari menyinarimu

Meski ku tahu ia terang untuk semua

Aku bahkan bisa gila melihat hujan membasahimu

Meski ku tahu dia turun untuk semua

Aku tidak tahu kenapa…

I just cant’ help it

Aku hanya tau, untukmu…

Aku bisa memberikan lebih dari sekedar matahari

Memberi teduh lebih dari yang diberi hujan

Untukmu yang entah siapa

Markas SUJ – 26 Juli 2010 11:04pm

Pertama dan Langsung Berkeping

July 23, 2010 - 3 Responses

otak kiriku mati
otak kananku pun kaku, beku
entah siapa diantara mereka yang berandai-andai
bernadai-andai jauh kemasa lalu,
bukan kemasa depan seperti yang biasa mereka lakukan

tidak masuk logika..
tidak masuk logika kalau menangis..
tidak masuk logika kalau menangis karena kehilangan..
sesuatu yang belum kumiliki
berarti ini si otak kanan

terus berandai-andai
andai begini mungkin begitu, andai begitu mungkin begini
andai bersabar, andai serius, andai tidak memaksa
andai ini andai itu
berarti ini si otak kiri

ah, tapi sepertinya bukan mereka
karena kuyakin keduanya beku
keduanya mati
keduanya kaku
aku pun menjadi beku
menjadi mati
menjadi kaku

aku pun menjadi beku, mati, kaku
entah sampai kapan

23 Juli 2010 3:56am

Jl. Antabaru 4, no.1 – Bandung

Hanya Sekedar

May 20, 2010 - One Response

Akumu cinta pada panorama mentari terbenam
Tapi tak mau angin pantai membuat wajahmu kusam

Akumu cinta pada langit sore yang merah
Tapi bersimpuh lama menanti membuatmu lelah

Akumu cinta ketika surya menyentuh cakrawala
Tapi benci pasir basah tertinggal di celana

Sederhana kawan, lepaskan ikatan sayapmu
Terbanglah jauh, tinggi, temukan panorama nyatamu

20 Mei 2010 – Pinus Regency

Kemenangan ke Dua Puluh Tujuh

May 19, 2009 - 2 Responses

Meski gunung tinggi habis didaki
jua masih mesti menanti
Meski tepi bumi usai disusuri
tetap, masih urung menjadi pasti
Sementara sepuluh sahabat sejati
dijamin antara tujuh yang abadi
sudah jaaaaaaaauh dari kapan hari
bahkan ketika bumi belum henti berotasi

Seorang antara sepuluh sejati
yang mendefinisi mimpi sebagai visi
yang melepas pertanyaan setajam belati
bahkan sempat berani berkata tinggi,
“kalau ada seratus yang sehati
akan membelot pemimpin ekspedisi!”
namun dibatas hari, dia turut mengakui
dan membubuhi tanda di atas janji

Seoarang lagi antara sepuluh sejati
yang berasal dari keluarga tamimi
yang kemudian menjadi mertua Nabi
juga terguncang di dalam hati
namun tetap percaya kepada al-Mahi
dan tenang memberi jawab si pemberani
Abdul Ka’bah, tanpa ragu dan bimbang lagi
membubuhi tanda di atas janji

Seorang lain antara sepuluh sejati
sepupu sekaligus menantu nabi
yang menjebol benteng terakhir Yahudi
Juru tulis kontrak politik ini,
pun tak terkecuali, meski berat hati
tak kuasa jemari Ali menari
untuk tunduk pada titah nabi
dan membubuhi tanda di atas janji

Aku tak tahu hati yang tujuh lagi
tapi tiga antara sepuluh telah kubagi
Dan teman, walau di dada memercik api
sebab pemimpin jadi berkongsi
tetapi jangan langsung kecewa dan lari
karena Allah mencintai barisan yang rapi!
Semoga kita dipersatukan dengan sepuluh sejati
tuk menyimak langsung kisah yang tujuh lagi

Puisi menyikapi keputusan sebuah partai^^ – 19 Mei 2009 di kost perjuangan

Tentang Dua Orang Bodoh

April 15, 2009 - 3 Responses

hanya orang bodoh
yang terus percaya dengan mimpinya
sementara mustahil diteriakkan sekelilingnya

hanya orang bodoh
yang terus yakin berlari
walau diancam akan mati

orang bodoh ini
terus kencang menuju gerbang ashura
gerbang ashura-nya sendiri

tetapi yang sering terlupakan
ternyata ada orang yang lebih bodoh lagi
dia , yang hanya dia yang ikut percaya, ikut yakin
dengan apa yang diyakini orang bodoh pertama

dia yang terus menunggu
kapan si orang bodoh pertama berhenti berlari

orang kedua ini jelas lebih bodoh lagi
dia tidak mengenal waktu
1, 10, 100, 1000 tahun
dia tetap menanti orang bodoh pertama berhenti
bodohnya lagi, ia abstrak akan gerbang ashura

Ujung Jalan

February 15, 2009 - Leave a Response

AkuĀ  damai
Terasing ditengah ramai

Tidak perlu menawarkan teduh
Aku merasa hangat dipeluk deras

Simpan saja mentari dan rembulan itu
Ini lebih dari sekedar mapan bagiku
Aku tidak pernah akan berpaling

Cukup hanya senyumnya
Tujuh keajaiban dunia pun sirna
Maka apa lagi yang bisa memutuskan asa?

Cukup hanya senyumnya
Tujuh keajaiban dunia pun sirna
Maka nikmat mana lagi yang bisa aku dustakan?

Kumohon tersenyumlah untukku

Hanya Untuk Pemikir

February 15, 2009 - Leave a Response

Sebuah bintang jatuh
Seorang anak manusia bahagia
Sepintas ia menahan pandang
Lalu membersitkan asa
Dengan yakin yang kepenuhan
Ditinggalkan segala ikhtiar

Sebuah bintang jatuh
Seorang anak manusia menangis
Terperanjat sadar tak ada yang abadi
Tergesa ia bermunajat dalam sungguh
Hanya kepada Rabb semata

Sebuah bintang jatuh
Seorang anak manusia tak peduli
Tak sadar bahwa ia merugi
Sesungguhnya ia tidak mau berpikir!

26 September 2008
@hotel Niagara 116 – Parapat

Puisi – Dari Sang Bintang

February 15, 2009 - 2 Responses
Bandung, 22 Agustus 2008

Kepada
Anak Manusia
di Bumi

Apa kabarmu Anak Manusia? Semoga sehat selalu di bumi sana. Perkenalkan, aku Bintang. Yang hanya bisa kau lihat dimalam pekat. Siang, aku tidak menghilang, hanya bintang yang terdekat, Mentari, membuat aku seakan menghilang.
Ya, aku Bintang. Yang hanya bisa kau lihat di malam pekat. Hanya ketika kau dalam gelap, baru kau bisa menyadari keberadaanku. Anak Manusia, sebenarnya aku senang bahkan gembira ketika kau bisa melihatku. Namun, aku juga sedih. Karena aku mengerti, itu artinya kau sedang ditemani dalam gelap.
Kalau begitu Anak Manusia, kuharap, jangan pernah melihatku lagi. Aku sangat gembira dengan cukup mengetahui bahwa kau sedang dalam terang. Jangan pernah menyadari keberadaanku, karena itu artinya engkau sedang dalam pekat.
Yang selalu mendoakan mu,

Bintang