Kemenangan ke Dua Puluh Tujuh

May 19, 2009 - 2 Responses

Meski gunung tinggi habis didaki
jua masih mesti menanti
Meski tepi bumi usai disusuri
tetap, masih urung menjadi pasti
Sementara sepuluh sahabat sejati
dijamin antara tujuh yang abadi
sudah jaaaaaaaauh dari kapan hari
bahkan ketika bumi belum henti berotasi

Seorang antara sepuluh sejati
yang mendefinisi mimpi sebagai visi
yang melepas pertanyaan setajam belati
bahkan sempat berani berkata tinggi,
“kalau ada seratus yang sehati
akan membelot pemimpin ekspedisi!”
namun dibatas hari, dia turut mengakui
dan membubuhi tanda di atas janji

Seoarang lagi antara sepuluh sejati
yang berasal dari keluarga tamimi
yang kemudian menjadi mertua Nabi
juga terguncang di dalam hati
namun tetap percaya kepada al-Mahi
dan tenang memberi jawab si pemberani
Abdul Ka’bah, tanpa ragu dan bimbang lagi
membubuhi tanda di atas janji

Seorang lain antara sepuluh sejati
sepupu sekaligus menantu nabi
yang menjebol benteng terakhir Yahudi
Juru tulis kontrak politik ini,
pun tak terkecuali, meski berat hati
tak kuasa jemari Ali menari
untuk tunduk pada titah nabi
dan membubuhi tanda di atas janji

Aku tak tahu hati yang tujuh lagi
tapi tiga antara sepuluh telah kubagi
Dan teman, walau di dada memercik api
sebab pemimpin jadi berkongsi
tetapi jangan langsung kecewa dan lari
karena Allah mencintai barisan yang rapi!
Semoga kita dipersatukan dengan sepuluh sejati
tuk menyimak langsung kisah yang tujuh lagi

Tentang Dua Orang Bodoh

April 15, 2009 - 3 Responses

hanya orang bodoh
yang terus percaya dengan mimpinya
sementara mustahil diteriakkan sekelilingnya

hanya orang bodoh
yang terus yakin berlari
walau diancam akan mati

orang bodoh ini
terus kencang menuju gerbang ashura
gerbang ashura-nya sendiri

tetapi yang sering terlupakan
ternyata ada orang yang lebih bodoh lagi
dia , yang hanya dia yang ikut percaya, ikut yakin
dengan apa yang diyakini orang bodoh pertama

dia yang terus menunggu
kapan si orang bodoh pertama berhenti berlari

orang kedua ini jelas lebih bodoh lagi
dia tidak mengenal waktu
1, 10, 100, 1000 tahun
dia tetap menanti orang bodoh pertama berhenti
bodohnya lagi, ia abstrak akan gerbang ashura

Ujung Jalan

February 15, 2009 - Leave a Response

Aku  damai
Terasing ditengah ramai

Tidak perlu menawarkan teduh
Aku merasa hangat dipeluk deras

Simpan saja mentari dan rembulan itu
Ini lebih dari sekedar mapan bagiku
Aku tidak pernah akan berpaling

Cukup hanya senyumnya
Tujuh keajaiban dunia pun sirna
Maka apa lagi yang bisa memutuskan asa?

Cukup hanya senyumnya
Tujuh keajaiban dunia pun sirna
Maka nikmat mana lagi yang bisa aku dustakan?

Kumohon tersenyumlah untukku

Hanya Untuk Pemikir

February 15, 2009 - Leave a Response

Sebuah bintang jatuh
Seorang anak manusia bahagia
Sepintas ia menahan pandang
Lalu membersitkan asa
Dengan yakin yang kepenuhan
Ditinggalkan segala ikhtiar

Sebuah bintang jatuh
Seorang anak manusia menangis
Terperanjat sadar tak ada yang abadi
Tergesa ia bermunajat dalam sungguh
Hanya kepada Rabb semata

Sebuah bintang jatuh
Seorang anak manusia tak peduli
Tak sadar bahwa ia merugi
Sesungguhnya ia tidak mau berpikir!

26 September 2008
@hotel Niagara 116 – Parapat

Puisi – Dari Sang Bintang

February 15, 2009 - 2 Responses
Bandung, 22 Agustus 2008

Kepada
Anak Manusia
di Bumi

Apa kabarmu Anak Manusia? Semoga sehat selalu di bumi sana. Perkenalkan, aku Bintang. Yang hanya bisa kau lihat dimalam pekat. Siang, aku tidak menghilang, hanya bintang yang terdekat, Mentari, membuat aku seakan menghilang.
Ya, aku Bintang. Yang hanya bisa kau lihat di malam pekat. Hanya ketika kau dalam gelap, baru kau bisa menyadari keberadaanku. Anak Manusia, sebenarnya aku senang bahkan gembira ketika kau bisa melihatku. Namun, aku juga sedih. Karena aku mengerti, itu artinya kau sedang ditemani dalam gelap.
Kalau begitu Anak Manusia, kuharap, jangan pernah melihatku lagi. Aku sangat gembira dengan cukup mengetahui bahwa kau sedang dalam terang. Jangan pernah menyadari keberadaanku, karena itu artinya engkau sedang dalam pekat.
Yang selalu mendoakan mu,

Bintang

Bahagia Tidak Pernah Sendiri

February 15, 2009 - One Response

Gandhi sekali waktu pernah berkata,
“Kebahagiaan adalah ketika apa yang kau pikir,
yang kau ucapkan,
dan yang kau kerjakan,
kesemuanya dalam sebuah harmoni.”

Gandhi orang ‘besar’.
Bahkan seorang bocah yang berbeda zaman dengannya,
Bocah yang hidup hanya untuk kebocahannya.
Bisa mengenal dirinya,
jadi ia benar-benar orang ‘BESAR’.

Semua buku tentangnya dilahap oleh si bocah.
Kemudian si bocah hidup untuk sesuatu.
Sekali waktu si bocah pernah berkata,
“Kebahagiaan adalah ketika apa yang kau pikir,
yang kau ucapkan,
dan yang kau kerjakan,
kesemuanya dalam sebuah harmoni,
serta ada orang lain yang mengerti,
sehingga kau bisa berbagi.”

Pupus

February 15, 2009 - One Response

Ku terlupa terpana tergoda
Melihat sinarmu dipagi hari
Pandanganku mengikutimu
Melihatmu memanjat tinggi

Walau menyilaukan
Aku tau maksudmu suci
Pandanganku mengikutimu
Melihatmu perlahan turun

Terus berusaha menjangkau dekat
Sampai dipaksa berhenti oleh laut
Kakiku basah berpasir
Namun memerahmu menyita peduliku

Indah… Tapi aku tau
Lebih indah ketika merahmu penuh
Berpendar menyapu garis melintang
Membuat hijau biru seakan fana
Dan itu yang kutunggu

Lututku kupeluk hingga bertemu
Pandanganku habis untukmu tanpa kedip
Senyumku mengembang, sebentar lagi pikirku
Asaku melambung, sedikit lagi bisikku J

Namun ketika tinggal setengah bentar
Kau bersembunyi di balik awan
Senyumku hilang, Asaku jatuh
Jatuh dengan sempurna
Samapi kuberharap
Kau tau usah terbit esok pagi
Atau esoknya lagi

Di dalam pick up di Kota Sukabumi, 30 Juni 2008, 20.23

Nenek Moyangku -katanya- Seorang Pelaut

February 12, 2009 - Leave a Response

Nenek moyangku seorang pelaut
Yang dengan gagah dan berani
Mengarungi samudra setiap hari
Anak dari anak nenek moyangku
Juga seorang pelaut
Namun tidak mengarungi samudra setiap hari
Bukan kurang gagah atau berani
Tapi harga bahan bakarnya semakin tinggi

Nenek moyangku seorang pelaut
Yang dengan gagah dan berani
Mengitarii samudra dari setiap sisi
Anak dari cucu nenek moyangku
Juga seorang pelaut
Namun tidak mengitari semua sisi
Bukan karena kurang gagah atau berani
Tapi karena sekarang ada laut yang milik pribadi

Nenek moyangku seorang pelaut
Yang dengan gagah dan berani
Mengelilingi samudra siang dan malam hari
Aku, cucu dari cucu nenek moyangku
Namun aku bukan seorang pelaut
Juga tidak mengelilingi samudra malam dan siang hari
Bukan karena aku tidak gagah atau berani
Tapi karena sekarang lautnya dijual keluar negeri

Kantor CV. Tri Versa (cabang Bayah), Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten, 29 Juni 2008, 13.23

Iya Atau Tidak

February 4, 2009 - Leave a Response

Wahai hawa, aku hendak bercerita
Kisah permainan yang sangat tua
Antar dua anak manusia

Yang duduk saling bertatap muka
Hening tanpa suara
Hanya otak yang berkerja
Dalam diam tanpa kata
Hanya butuh logika
Tanpa menerka atau menduga-duga

Namun ketika sebuah bidak kau pilah
Lalu kau genggam kuat tanpa celah
Dan bertanya padaku, putihkah? Atau hitamkah?
Maka pasti akan segera kusanggah
Bahwa yang begitu, bukan permainan yang tadi kukisah
Itu hanya menerka, bisa benar atau salah
Jika tebakanku benar, engkau pasti marah
Kalaupun salah, belum tenteu senyummu merekah
Dan aku sangat tidak suka menduga dalam pasrah

Bagaimana kalau begini
Lepaskan saja jari jemari
Letakkan bidaknya di atas sini
Kantongkan dulu si otak kiri
Mari kita bicara hati ke hati
Karena aku yakin pasti
Bukan catur tujuanmu kesini
Jadi sekali lagi
Mari kita bicara hati ke hati

Pantai di seberang Pulo Manuk, 27 Juni 2008, 16.28

……… ………

February 4, 2009 - Leave a Response
Yang memanggil di pagi buta

Menggelitik telingamu

Karena kau tak menemukannya

Maka kau putuskan

Untuk merajut lagi malam dikala fajar


Sinar pagi menerobos celah matamu

Kau putuskan duduk tapi tidak beranjak

Perhatikan bulan yang kesiangan

Tadi malam begitu anggun

Namun sekarang sudah merendah


Ingin terus mencarinya

Kau picingkan mata

Coba lawan sinar surya yang menggoda

Kuat, dan kau kalah

Padahal tadi malam dia entah dimana

Karena kau tidak menemukannya

Kau merajut lagi malam ditengah dhuha

Ah, anak manusia…


Yang memanggil di siang hari

Lagi-lagi menggelitik telingamu

Kali ini tak ada yang menerobos sinar matamu

Sang surya hilang?

Tidak, kau tersadar, tidak…

Dia tidak hilang tapi sudah diatas

Ya, dia sudah diatas

Tetapi yang kau cari

Tetap tidak ada


Ah, anak manusia…

Kau memang tidak bisa melihatnya

Tapi lihatlah bulannya

Lihatlah mataharinya

Maka kau akan menemukannya


Nah, Cobalah…

Pintar…

Kau mengerti sekarang anak manusia?

Bagus…

Tapi, satu pesanku

DIA yang harus kau cintai

Bukan mentarinya bukan jua rembulannya

Hanya DIA